Archive | Manajemen dan Bisnis RSS feed for this section

Sukses Wirausaha, dari UKM (Usaha kecil Menegah) untuk Negeri

1 Nov

UKM Indonesia1 - Wirausaha Indonesia - IDWirausaha.comPembaca IDWirausahasukses berwirausaha tidak semuanya harus bermodal besar dan berkapital besar, bisnis dan usaha dari rumahan-pun (UKM. red) jika dikelola dengan sabar dan antusias maka akan memperoleh hasil yang luar biasa. Kita tahu bahwasana Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dalam membangun perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia.  Usaha mikro kecil menengah menjadi salah satu prioritas dalam agenda pembangunan di Indonesia hal ini terbukti dari bertahannya sektor UKM saat terjadi krisis hebat tahun 1998, bila dibandingkan dengan sektor lain yang lebih besar justru tidak mampu bertahan dengan adanya krisis. Dicuplik dari Mudradjad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008 mengemukakan bahwa UKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampusurvive karena, pertama, tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke-perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga,menggunakan input lokal. Keempat, berorientasi ekspor.

Data Statistik yang dikeluarkan oleh UKM menyimpulkan bahwa 5 sektor yang memiliki porsi terbesar adalah UKM yang terkait dengan industri makanan dan minuman. Sektor ini membentuk rantai makanan yang berupa input bahan baku dan output jadi makanan dan minuman. Industri Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikananmenyumbang bahan baku untuk pembuatan makanan dan minuman, sementara Industri Perdagangan, Hotel, dan Restoran menjual makanan dan minuman jadi hasil pengolahan dari industry sebelumnya. Sehingga jika ditotal, sektor makanan dan minuman memiliki proporsi unit usaha UKM lebih dari 80%.

Bagi para Wirausaha Indonesia yang usahanya masih berbasis rumahan tidak perlu ragu dalam pengembangan usahanya. Sekarang ini lembaga-lembaga donor internasional semuanya mendukung perkembangan UKM. Ada yang melihatnya sebagai wahana untuk menciptakan kesempatan kerja (ILO), ada yang melihatnya sebagai penjabaran komitmen mereka (IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia) untuk memerangi kemiskinan di negara-negara berkembang. Di Asia, perkembangan sektor UKM ini juga dilihat sebagai salah suatu jalan keluar dari krisis ekonomi. Para donor multilateral dan bilateral (antara lain Jepang) semuanya akan menyediakan dana dan bantuan teknis untuk pengembangan sektor ini. Jadi jangan takut memulai usaha, ber-wirausahalah dari muda agar kelak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sumber : http://idwirausaha.com/sukses-wirausaha-ukm-usaha-kecil-menengah-untuk-negeri/

Advertisements

MEMBENTENGI PASAR TRADISIOANAL DARI ARUS PASAR MODEREN

1 Nov

Nama : David Wahyu Haryono

Nim   : 20120410306

Kelas : H

Sejak kebijakan otonomi daerah diberlakukan, geliat investasi industri layanan barang dan jasa begitu terasa. Pasar modern seperti hypermarket, mall, pusat grosir, super market, minimarket, dan ragam swalayan modern tumbuh pesat. Bila dibiarkan bebas bersaing, pertumbuhan pasar modern ini berpotensi menggusur pasar tradisional. Karena itu, pemerintah daerah perlu merevitalisasi pasar tradisional agar mampu bertahan dan berkembang di tengah pusaran arus pasar modern.

Pergeseran Ekonomi Lokal

Meningkatnya pola modernisasi ekonomi Indonesia saat ini makin melahirkan marginalisasi besar-besaran. Mari kita simak gejala itu di daerah. Maraknya pasar-pasar modern itu ternyata tidak saja mewabah memenuhi kawasan kota-kota yang tergolong besar (metropolitan). Namun, justru merangsek kian cepat masuk ke pelosok desa. Di satu sisi, hal ini dianggap tanda kemajuan, karena cita rasa pasar dikonstruksi penuh layanan yang mewah dan serba kecukupan. Tetapi di sisi lain, wabah pasar modern ini makin menyusutkan ruang bagi eksistensi pasar tradisional.

Format pasar modern tersebut juga dikemas berupa penampilan tata ruang yang menarik, terang, lapang, dan sejuk (ber-AC). Para pembeli dalam berbelanja, faktanya bukan disuguhi suasana yang kotor, panas, sumpek, dan becek, sebagaimana citra yang dikesankan pasar tradisional. Bahkan, peristiwa buruk seperti kecopetan atau berhadapan dengan penjual yang tidak ramah tentu tidak dijumpai di pasar-pasar modern. Itulah konstruksi umum yang dibalutkan dalam wajah pasar modern.

Melalui deretan cita rasa nilai lebih yang ditawarkan itulah, tentu saja dengan mudah pasar-pasar modern memiliki daya tarik bagi masyarakat (khususnya golongan menengah kota dan desa). Tak pelak lagi, pangsa pasar yang selama ini dikuasai pasar tradisional dan peritel konvensional secara perlahan mulai tergeser. Apalagi dengan dukungan manajemen dan sistem informasi yang tertata, bukan tidak mungkin pasar-pasar modern tersebut akan memimpin pasar dalam waktu sekejap (NofieIman, “Menahan Gempuran Pasar Modern”, 2005).

Apa akibatnya? Pasar tradisional yang dipaksa bersaing dengan pasar modern dengan penampilan serba “mewah dan nyaman” makin meminggirkan pasar tradisional. Inilah ancaman serius yang dirasakan di daerah-daerah.

Tercatat misalnya, dari data dari Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia (APPSI) pada tahun 2005 seperti dikutip website Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, bahwa sekitar 400 toko di pasar tradisional harus tutup usaha setiap tahunnya. Jumlah tersebut bukan mustahil akan terus bertambah seiring kehadiran pasar modern yang kian marak, yang justru diberi lampu “hijau” oleh penguasa lokal yang bekerjasama dengan para komprador (borjuis lokal). Kondisi semacam ini tentu sungguh memprihatinkan. Sebagaimana pengalaman pengalaman Kota Bangkok, Thailand, yang awalnya memiliki puluhan pasar tradisional namun kini hanya tersisa dua pasar karena terdesak oleh kehadiran puluhan hypermarket. Pengalaman serupa bukan mustahil akan dialami Indonesia (Indra KH, “Pasar Tradisional ditengah Kepungan Pasar Modern, 2007)

Secara makro, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran pasar modern telah mengancam eksistensi pasar tradisional. Fakta ini antara lain diungkap dalam penelitian AC Nielson yang menyatakan bahwa pasar modern telah tumbuh sebesar 31,4 persen. Bersamaan dengan itu, pasar tradisional telah tumbuh secara negatif sebesar 8 persen. Berdasarkan kenyataan ini maka pasar tradisional akan habis dalam kurun waktu sekitar 12 tahun yang akan datang, sehingga perlu adanya langkah preventif untuk menjaga kelangsungan pasar tradisional termasuk kelangsungan usaha perdagangan (ritel) yang dikelola oleh koperasi dan UKM (Hasil penelitian kerjasama antara Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM dengan PT Solusi Dinamika Manajemen, 2005, dalam Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM No 1/I/2006). Dalam riset ini pula diketahui bahwa dampak keberadaan pasar modern terhadap pasar tradisional adalah dalam hal penurunan omzet penjualan.